Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama merencanakan akan membongkar seluruh jembatan penyeberangan orang (JPO) yang tidak layak. Karena ternyata kebanyakan jalur penyeberangan tersebut dibangun tanpa izin.
Basuki atau akrab disapa Ahok ini mengatakan, tragedi robohnya JPO Pasar Minggu, Jakarta Selatan tidak boleh kembali terulang. Mengingat saat ini Indonesia tengah mengalami La Nina yang notabenenya berpotensi angin kencang.
"JPO semua yang enggak benar kita bongkar. Termasuk iklan. Ini kan La Nina, Jakarta ini bahaya Februari tahun depan (hujan angin)," katanya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Selasa (27/9).
Mantan Bupati Belitung Timur ini mengaku belum mengetahui berapa jumlah JPO yang berkondisi buruk. Untuk pengawasan, ke depannya pengelolaan JPO akan sepenuhnya oleh UPT Parkir dan tidak boleh ada lagi iklan atau reklame besar menempel.
"JPO Kita serahkan ke UPT Parkir, panggil biro iklan. Iklan nempel enggak boleh. Yang bener kayak JPO bundaran HI ada iklan kecil," terangnya.
Ahok mengungkapkan, telah menginstruksikan Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk melakukan pendataan ulang JPO mana yang harus dibongkar. Sedangkan pembongkaran JPO sendiri akan dilakukan selambat-lambatnya akhir tahun 2016.
"Tahun ini dibongkar. Pengembang yang bangun atau iklan nanti kita lihat," tutupnya.
Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta mensinyalir robohnya jembatan penyeberangan orang (JPO) di Pasar Minggu karena keberadaan papan reklame. Pemasangannya diduga telah menyalahi aturan, di mana penyangganya dipasang di area yang tidak tepat.
Pelanggaran itu tak hanya terjadi di kawasan Pasar Minggu saja, ada sejumlah papan reklame yang juga diduga melakukan pelanggaran. Salah satunya berada di Jl KH Abdulla Syafei, Tebet, Jakarta Selatan. Papan tersebut nampak menutupi sebagian pemandangan di atas JPO. Papan reklame yang masih kosong tersebut nampak coretan tinta semprot putih.
Meski begitu, bagi sebagian warga keberadaannya cukup menguntungkan. Salah satunya Masrofah (25), salah seorang pegawai di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Masrofah mengaku nyaman dengan keberadaan reklame tersebut, sebab dia tidak akan terkena terpaan panas atau angin kencang. Namun, dia menyadari kenyamanan tak selalu berbanding lurus dengan keamanan.
"Adem sih kalau ada reklame yang tinggi kayak gitu, cuma ya kalau akibatnya bisa buat roboh kayak kejadian kemarin, ya mending dicopot aja dulu reklamenya ganti yang sesuai," ujarnya kepada merdeka.com, Senin (26/9).
Meski begitu, dia mengaku tidak mengetahui perihal peraturan pemasangan papan reklame di JPO. Peraturan itu baru diketahuinya pasca-robohnya JPO di Pasar Minggu.
"Enggak tahu. Baru tahu kalau ternyata ada peraturan soal itu," kata dia.
Senada dengan Masrofah, seorang ibu paruh baya, Sukeri (42) berharap agar JPO bisa memberi rasa keamanan dan kenyamanan. Ibu rumah tangga itu mengaku lebih memilih menggunakan JPO, ketimbang menyebrang lewat jalan besar, alasannya tidak lain adalah keamanan.
"Ya mending menyebrang lewat sini (JPO) di bawah kan banyak motor mobil," ujar ibu Sukeri saat berbincang dengan merdeka.com di JPO Pasar Gembrong.
Dia sendiri mengaku tidak takut menggunakan JPO Pasar Gembrong, meski terdapat anak tangga yang sudah rusak serta lantai JPO yang sering bergoyang.
"Lillahi ta'ala aja saya mah. Daripada lewat bawah saya lebih aman lewat sini," imbuhnya.
Adanya kejadian JPO Pasar Minggu membuat Ibu Sukeri lebih waspada lagi jika menggunakan JPO, terlebih lagi jika hujan turun.
"Licin kalau hujan, jadi ya hati hati aja kalau lewat pelan-pelan," pungkasnya.
Basuki atau akrab disapa Ahok ini mengatakan, tragedi robohnya JPO Pasar Minggu, Jakarta Selatan tidak boleh kembali terulang. Mengingat saat ini Indonesia tengah mengalami La Nina yang notabenenya berpotensi angin kencang.
"JPO semua yang enggak benar kita bongkar. Termasuk iklan. Ini kan La Nina, Jakarta ini bahaya Februari tahun depan (hujan angin)," katanya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Selasa (27/9).
Mantan Bupati Belitung Timur ini mengaku belum mengetahui berapa jumlah JPO yang berkondisi buruk. Untuk pengawasan, ke depannya pengelolaan JPO akan sepenuhnya oleh UPT Parkir dan tidak boleh ada lagi iklan atau reklame besar menempel.
"JPO Kita serahkan ke UPT Parkir, panggil biro iklan. Iklan nempel enggak boleh. Yang bener kayak JPO bundaran HI ada iklan kecil," terangnya.
Ahok mengungkapkan, telah menginstruksikan Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk melakukan pendataan ulang JPO mana yang harus dibongkar. Sedangkan pembongkaran JPO sendiri akan dilakukan selambat-lambatnya akhir tahun 2016.
"Tahun ini dibongkar. Pengembang yang bangun atau iklan nanti kita lihat," tutupnya.
Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta mensinyalir robohnya jembatan penyeberangan orang (JPO) di Pasar Minggu karena keberadaan papan reklame. Pemasangannya diduga telah menyalahi aturan, di mana penyangganya dipasang di area yang tidak tepat.
Pelanggaran itu tak hanya terjadi di kawasan Pasar Minggu saja, ada sejumlah papan reklame yang juga diduga melakukan pelanggaran. Salah satunya berada di Jl KH Abdulla Syafei, Tebet, Jakarta Selatan. Papan tersebut nampak menutupi sebagian pemandangan di atas JPO. Papan reklame yang masih kosong tersebut nampak coretan tinta semprot putih.
Meski begitu, bagi sebagian warga keberadaannya cukup menguntungkan. Salah satunya Masrofah (25), salah seorang pegawai di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Masrofah mengaku nyaman dengan keberadaan reklame tersebut, sebab dia tidak akan terkena terpaan panas atau angin kencang. Namun, dia menyadari kenyamanan tak selalu berbanding lurus dengan keamanan.
"Adem sih kalau ada reklame yang tinggi kayak gitu, cuma ya kalau akibatnya bisa buat roboh kayak kejadian kemarin, ya mending dicopot aja dulu reklamenya ganti yang sesuai," ujarnya kepada merdeka.com, Senin (26/9).
Meski begitu, dia mengaku tidak mengetahui perihal peraturan pemasangan papan reklame di JPO. Peraturan itu baru diketahuinya pasca-robohnya JPO di Pasar Minggu.
"Enggak tahu. Baru tahu kalau ternyata ada peraturan soal itu," kata dia.
Senada dengan Masrofah, seorang ibu paruh baya, Sukeri (42) berharap agar JPO bisa memberi rasa keamanan dan kenyamanan. Ibu rumah tangga itu mengaku lebih memilih menggunakan JPO, ketimbang menyebrang lewat jalan besar, alasannya tidak lain adalah keamanan.
"Ya mending menyebrang lewat sini (JPO) di bawah kan banyak motor mobil," ujar ibu Sukeri saat berbincang dengan merdeka.com di JPO Pasar Gembrong.
Dia sendiri mengaku tidak takut menggunakan JPO Pasar Gembrong, meski terdapat anak tangga yang sudah rusak serta lantai JPO yang sering bergoyang.
"Lillahi ta'ala aja saya mah. Daripada lewat bawah saya lebih aman lewat sini," imbuhnya.
Adanya kejadian JPO Pasar Minggu membuat Ibu Sukeri lebih waspada lagi jika menggunakan JPO, terlebih lagi jika hujan turun.
"Licin kalau hujan, jadi ya hati hati aja kalau lewat pelan-pelan," pungkasnya.
Comments