Skip to main content

PNS Pengadilan Pemilik 19 Mobil Tetap Ingin Bunuh Diri: Saya Tak Sanggup Lagi

PNS Pengadilan Pemilik 19 Mobil Tetap Ingin Bunuh Diri: Saya Tak Sanggup LagiRohadi diadili di Pengadilan Tipikor Jakarta
 Rohadi mengaku masih ingin bunuh diri atas apa yang dialaminya. PNS PN Jakut itu masih ingin dipindahkan dari sel di lantai 9 KPK ke sel di lantai 1 KPK agar niat bunuh dirinya tidak ia laksanakan.

"Bagaimana, sudah pindah ke lantai 1?" tanya ketua majelis hakim Sumpeno dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/9/2016).

"Kami belum tahu Yang Mulia," jawab Rohadi.

Rohadi merupakan pria kelahiran Indramayu yang dari SD hingga SMA besar di Indramayu. Selepas SMA, Rohadi bekerja menjadi sipir penjara di Rutan Salemba pada 1990 dan setelah itu itu menjadi pegawai di PN Jakut. Sambil bekerja, Rohadi menyelesaikan S1 dan S2 sehingga menggondol gelar Sarjana Hukum dan Master Hukum.

Seiring waktu, kesejahteraan Rohadi berubah. Dari yang awalnya tinggal di rumah petak di ujung gang buntu di Rawa Bebek, Bekasi, kini ia tinggal di dua rumah di The Royal Residence seharga Rp 6 miliar. Bila dulu ia selalu nebeng ke tempat kerja karena tidak punya kendaraan, kini ia memiliki 19 mobil. Padahal ia hanyalah PNS bergaji Rp 8 jutaan per bulan.

Asal-usul kekayaan Rohadi mulai terbongkar saat ia ditangkap KPK sedang menerima suap dari pengacara Saipul Jamil yang bernama Berthanatalia. Rohadi lalu ditahan di lantai 9 KPK sejak pertengahan Juni 2016.

Setelah itu, Rohadi dijerat lagi dengan kasus gratifikasi dan kasus pencucian uang. Menyikapi hal itu, Rohadi mengaku takut dan selalu ingin loncat bunuh diri dari lantai 9 KPK karena cemas.

"Lantai 9 masih takut?" tanya Sumpeno lagi.

"Iya cemas Yang Mulia, karena kami sudah tidak sanggup lagi," iba Rohadi.

Namun, benarkah alasan Rohadi atau hanya alibi semata? 
(rni/asp)

Comments

Popular Posts

Hujan Deras Mengguyur Ibu Kota, Sejumlah Ruas Jalan Digenangi Air

 Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Jakarta, Senin (1/11/2016), menimbulkan genangan air di sejumlah lokasi. Imbasnya, arus lalu lintas menjadi tersendat. Berdasarkan informasi dari Akun Twitter Resmi TMC Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, genangan air tampak di sebagian wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Salah satunya di Jalan DI Panjaitan. Di lokasi tersebut, air menggenangi ruas jalan setinggi 20 sentimeter. Akibat genangan air tersebut kendaraan terpaksa melintas di jalur Transjakarta. View image on Twitter  Follow TMC Polda Metro Jaya   ✔ @TMCPoldaMetro 15.38 Genangan air sekitar 30 cm di Jl Pangeran Jayakarta lalin terpantau padat @ kolammedan 3:38 PM - 1 Nov 2016     2 2 Retweets     5 5 likes "15.33 WIB genangan air sekitar 20cm depan Wika Jalan DI Panjaitan, Jaktim, hati-hati bila melintas," tulis akun twitter @TMCPoldaMetro. Selain di Jalan DI Pan...

"Pak Ahok, 'You Will Never Walk Alone'..."

Kurnia Sari Aziza/KOMPAS.com Warga menandatangani dan memberi kalimat dukungan kepada Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, di area Car Free Day, Jakarta, Minggu (16/11/2014). JAKARTA, KOMPAS.com  — "Saya Muslim, dan saya dukung Ahok," begitu kata Friska Lubis (28), warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, memberikan dukungan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Minggu (16/11/2014) pagi, Friska bersama kedua temannya sedang berlari pagi saat  car free day . Namun, aktivitas mereka terhenti saat melihat dua spanduk berukuran 1,5 x 5 meter terbentang di pelataran halaman Hotel Kempinski, Jakarta. Spanduk itu berasal dari Barisan Relawan Indonesia. Dalam spanduk itu terdapat foto Basuki mengenakan baju kotak-kotak. Friska dan kedua temannya langsung mengambil spidol dan menandatangani spanduk sebagai bentuk dukungan kepada Basuki. "Pak Ahok,  you will never walk alone ," tulis Friska di spanduk itu. Pegawai salah satu p...

Indonesiaku Kini

Indonesia , Bangsa yang pernah jaya dimasa lalu, pernah pula dijajah berabad-abad lamanya, kemudian menggapai kemerdekaannya pada tanggal 17 agustus 1945, namun hingga kini setelah sekian puluh tahun merdeka , kini Indonesia seolah kehilangan arah dan tujuan dari para pendiri bangsa ini dulu ketika memproklamirkan kemerdekaannya, di lapisan atas para elite sibuk berperang memperebutkan kekuasaan sedangkan dilapisan bawah rakyat kehilangan pegangan dan harapan, di lapisan tengah rakyat harus berjuang sendiri dan di goyang atas bawah pusing mengikuti entah mau kemana. Indonesia, Bangsa yang pernah Jaya dimasa lalu, dimana nenek moyang kita dikenal sebagai pelaut ulung, ditakuti dan disegani para musuh, dihormati para sahabat kini seperti bayi yang baru belajar merangkak, butuh bimbingan dan pengawasan dari para musuh serta sahabat.  Indonesia, Bangsa yang pernah Jaya dimasa lalu, tidak pernah membedakan suku dan agama, saling bahu membahu mempertahankan kejayaannya, tid...