Skip to main content

Ridwan Kamil: Saya Ingin Lari, tetapi Terhambat Aturan Sendiri...

Wali Kota Bandung Ridwan Kamilmengeluhkan banyaknya aturan pemerintah pusat yang menghambat kecepatan pembangunan di daerah.

Hal itu disampaikan pria yang kerap disapa Emil itu usai menerima wawancara dari Bappenas perihal kajian kebijakan inovasi kepala daerah dalam rangka mendukung implementasi UU No.23 tahun 2014 di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Rabu (24/8/2016).
Sebagai contoh, upaya Kota Bandung merancang sejumlah program kerja sama untuk menyambut kedatangan kereta cepat banyak terbentur aturan pusat.
"Ini contoh ya, kereta api mau datang, saya mau bangun macam-macam kerjasama. Kita enggak punya BUMD-nya kan. Mau bikin perusahaan, Undang-undang No 23 menyatakan harus pakai Peraturan Pemerintah (PP). PP-nya mana belum ada, terus bagaimana? Kami hanya bisa diam, bisnis lewat. Peluang hilang, kota mandek," tutur Emil.
Emil sempat berkonsultasi ke Kementrian Dalam Negeri mencari solusi terkait dinamika aturan sendiri yang menghambat akselerasi pembangunan di daerah.
"Kami konsultasi ke Kemendagri selama PP itu belum ada, gunakan hukum yang ada, juga enggak boleh ada kekurangan referensi hukum," ujar Emil.
Dia menyimpulkan, terhambatnya pembangunan di daerah bukan karena masalah sumber daya manusia, melainkan banyaknya aturan yang justru membuat kinerja terhambat.
"Makanya coba tanyakan logikanya kenapa Pak Jokowi mau menghapuskan 40.000 aturan yang selama ini gak ngefek, malah menghambat," ucap Emil.
Dia menilai, jika tiap kepala daerah diberi keleluasaan untuk bergerak serta diberi perlindungan hukum, maka pembangunan akan berjalan cepat.
Salah satu contohnya, saat Kota Bandung dipaksa bekerja cepat untuk menghelat Konferensi Asia Afrika. Kala itu, kata Emil, Pemkot Bandung diberi deadline 60 hari untuk mengerjakan 60 proyek.
"Waktu KAA 2015, dikasih waktu hanya 60 hari. Kalau pakai peraturan normal bisa sampai 1,5 tahun. Beres 60 hari, karena dilindungi. Pak Wali boleh tunjuk langsung selama penunjukan (proyek) disertai (rekomendasi) kepolisian, kejaksaan, dan BPKP. Jadi artinya membangun 1,5 tahun bisa hanya dua bulan. Jadi sesuatu yang membuat lelet itu peraturan. Kadang saya teh ingin lari tapi terhambat oleh aturan sendiri," ungkap Emil.

Comments

Popular Posts

Hujan Deras Mengguyur Ibu Kota, Sejumlah Ruas Jalan Digenangi Air

 Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Jakarta, Senin (1/11/2016), menimbulkan genangan air di sejumlah lokasi. Imbasnya, arus lalu lintas menjadi tersendat. Berdasarkan informasi dari Akun Twitter Resmi TMC Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, genangan air tampak di sebagian wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Salah satunya di Jalan DI Panjaitan. Di lokasi tersebut, air menggenangi ruas jalan setinggi 20 sentimeter. Akibat genangan air tersebut kendaraan terpaksa melintas di jalur Transjakarta. View image on Twitter  Follow TMC Polda Metro Jaya   ✔ @TMCPoldaMetro 15.38 Genangan air sekitar 30 cm di Jl Pangeran Jayakarta lalin terpantau padat @ kolammedan 3:38 PM - 1 Nov 2016     2 2 Retweets     5 5 likes "15.33 WIB genangan air sekitar 20cm depan Wika Jalan DI Panjaitan, Jaktim, hati-hati bila melintas," tulis akun twitter @TMCPoldaMetro. Selain di Jalan DI Pan...

"Pak Ahok, 'You Will Never Walk Alone'..."

Kurnia Sari Aziza/KOMPAS.com Warga menandatangani dan memberi kalimat dukungan kepada Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, di area Car Free Day, Jakarta, Minggu (16/11/2014). JAKARTA, KOMPAS.com  — "Saya Muslim, dan saya dukung Ahok," begitu kata Friska Lubis (28), warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, memberikan dukungan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Minggu (16/11/2014) pagi, Friska bersama kedua temannya sedang berlari pagi saat  car free day . Namun, aktivitas mereka terhenti saat melihat dua spanduk berukuran 1,5 x 5 meter terbentang di pelataran halaman Hotel Kempinski, Jakarta. Spanduk itu berasal dari Barisan Relawan Indonesia. Dalam spanduk itu terdapat foto Basuki mengenakan baju kotak-kotak. Friska dan kedua temannya langsung mengambil spidol dan menandatangani spanduk sebagai bentuk dukungan kepada Basuki. "Pak Ahok,  you will never walk alone ," tulis Friska di spanduk itu. Pegawai salah satu p...

Indonesiaku Kini

Indonesia , Bangsa yang pernah jaya dimasa lalu, pernah pula dijajah berabad-abad lamanya, kemudian menggapai kemerdekaannya pada tanggal 17 agustus 1945, namun hingga kini setelah sekian puluh tahun merdeka , kini Indonesia seolah kehilangan arah dan tujuan dari para pendiri bangsa ini dulu ketika memproklamirkan kemerdekaannya, di lapisan atas para elite sibuk berperang memperebutkan kekuasaan sedangkan dilapisan bawah rakyat kehilangan pegangan dan harapan, di lapisan tengah rakyat harus berjuang sendiri dan di goyang atas bawah pusing mengikuti entah mau kemana. Indonesia, Bangsa yang pernah Jaya dimasa lalu, dimana nenek moyang kita dikenal sebagai pelaut ulung, ditakuti dan disegani para musuh, dihormati para sahabat kini seperti bayi yang baru belajar merangkak, butuh bimbingan dan pengawasan dari para musuh serta sahabat.  Indonesia, Bangsa yang pernah Jaya dimasa lalu, tidak pernah membedakan suku dan agama, saling bahu membahu mempertahankan kejayaannya, tid...