Skip to main content

Negara Puji Aksi Mbah Sadiman yang Hijaukan Bukit Gendol

Pemerintah memuji setinggi langit aksi Mbah Sadiman yang sendirian menghijaukan Bukit Gendol, Wonogiri. Pemerintah berharap masih banyak 'Mbah Sadiman' lainnya di pelosok nusantara.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengaku sudah mendengar sepak terjang Mbah Sadiman di Wonogiri. Malah Siti memerintahkan anak buahnya untuk mendatangi Mbah Sadiman.

"Aksi Mbah Diman sangat patut diapresiasi dan dihargai," kata Siti saat dihubungi, Sabtu (29/8/2015).

Siti percaya dengan niat tulus yang dilakukan Mbah Sadiman belasan tahun sendirian menghijaukan Bukit Gendol. Bagi Siti, sosok Mbah Sadiman meyakini pentingnya arti sebuah tumbuhan untuk menjaga stabilitas alam dan lingkungan.

Pihaknya saat ini memang sedang mencari sosok seperti Mbah Sadiman di seluruh Indonesia. Dan dia yakin masih banyak orang yang sangat peduli pada Penghijauan tanpa perlu gembar-gembor ke media massa.

Aksi Mbah Sadiman memang sudah selayaknya menjadi panutan banyak pihak. Bekerja diam tanpa suara, dia tanam banyak pohon-pohon pengikat air di Bukit itu.

Hasilnya, musim kemarau yang mengancam banyak daerah, justru tidak berpengaruh di Bukit itu. Air tetap bisa mengalir deras dan jernih. Bukit Gendol dan Ampyangan pun terus terlihat asri. 

Anda harus tahu siapa Mbah Sadiman (65). Dalam sunyi, dia bekerja sendiri menghijaukan Bukit Gendol di Wonogiri, Jateng. Belasan tahun dengan telaten dan sabar dia menanami Bukit Gendol dengan pohon beringin seorang diri. Alasan memilih beringin karena bisa menyimpan air.

"Sekarang tekad saya itu sudah membuahkan hasil karena sumber air kembali mengalir seperti kita saya masih kecil dulu," jelas Sadiman sumringah yang ditemui detikcom di desanya, Kamis (27/8).

Sadiman tak berharap pamrih. Beroleh izin dari Perhutani, sudah puluhan ribu pohon dia tanam. Dan kerennya si mbah ini yang hidupnya sederhana ini, merogoh kocek dari kantongnya sendiri untuk penghijauan. Dia tidak meminta uang dari siapapun, pengusaha apalagi pejabat. Bagaimana caranya?
Dia mencari bibit yang tumbuh liar secara kebetulan seperti sebelumnya. Dia melakukan pembibitan di pekarangan rumahnya. Setelah cukup besar bibit tanaman itu dibawanya naik ke gunung untuk ditanam di lokasi-lokasi yang yang kosong. Sambil melakukan penanaman, dia juga melakukan perawatan dan memeriksa tanamam yang telah ditanam sebelumnya.

Di pekarangannya juga disemai ratusan bibit pohon jati dan pohon cengkeh, namun bukan untuk ditanam di hutan. Kepada warga desanya Sadiman menawarkan bibit tanaman produktif itu dengan cara barter. Silakan ambil satu bibit pohon jati atau cengkeh asal ditukar dengan satu bibit pohon beringin. Beringin hasil barter itulah yang nantinya akan ditanamnya di hutan lereng gunung.

"Saya tidak terbebani apapun setiap hari harus naik turun ke hutan untuk menanam dan merawat pohon-pohon itu. Toh sekalian jalan saja, karena tanpa itupun saya juga harus ke hutan untuk mencari rumput. Istri saya juga tidak mempersoalkannya, karena setiap pulang ke rumah saya juga menbawa pulang kayu bakar kering dari hutan untuk memasak. Jadi kalau pulang saya bawa rumput dan kayu bakar," papar Mbah Sadiman.
Kerja, kerja, dan kerja Sadiman berbuah hasil. Kini Mbah Sadiman tak seorang diri bisa menikmati air yang kembali mengalir dari Bukit Gendol, tetapi juga ratusan warga Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri.

Bila Mbah Sadiman sudah berbuat, bagaimana dengan kita semua? 

Comments

Popular Posts

Hujan Deras Mengguyur Ibu Kota, Sejumlah Ruas Jalan Digenangi Air

 Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Jakarta, Senin (1/11/2016), menimbulkan genangan air di sejumlah lokasi. Imbasnya, arus lalu lintas menjadi tersendat. Berdasarkan informasi dari Akun Twitter Resmi TMC Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, genangan air tampak di sebagian wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Salah satunya di Jalan DI Panjaitan. Di lokasi tersebut, air menggenangi ruas jalan setinggi 20 sentimeter. Akibat genangan air tersebut kendaraan terpaksa melintas di jalur Transjakarta. View image on Twitter  Follow TMC Polda Metro Jaya   ✔ @TMCPoldaMetro 15.38 Genangan air sekitar 30 cm di Jl Pangeran Jayakarta lalin terpantau padat @ kolammedan 3:38 PM - 1 Nov 2016     2 2 Retweets     5 5 likes "15.33 WIB genangan air sekitar 20cm depan Wika Jalan DI Panjaitan, Jaktim, hati-hati bila melintas," tulis akun twitter @TMCPoldaMetro. Selain di Jalan DI Pan...

"Pak Ahok, 'You Will Never Walk Alone'..."

Kurnia Sari Aziza/KOMPAS.com Warga menandatangani dan memberi kalimat dukungan kepada Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, di area Car Free Day, Jakarta, Minggu (16/11/2014). JAKARTA, KOMPAS.com  — "Saya Muslim, dan saya dukung Ahok," begitu kata Friska Lubis (28), warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, memberikan dukungan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Minggu (16/11/2014) pagi, Friska bersama kedua temannya sedang berlari pagi saat  car free day . Namun, aktivitas mereka terhenti saat melihat dua spanduk berukuran 1,5 x 5 meter terbentang di pelataran halaman Hotel Kempinski, Jakarta. Spanduk itu berasal dari Barisan Relawan Indonesia. Dalam spanduk itu terdapat foto Basuki mengenakan baju kotak-kotak. Friska dan kedua temannya langsung mengambil spidol dan menandatangani spanduk sebagai bentuk dukungan kepada Basuki. "Pak Ahok,  you will never walk alone ," tulis Friska di spanduk itu. Pegawai salah satu p...

Indonesiaku Kini

Indonesia , Bangsa yang pernah jaya dimasa lalu, pernah pula dijajah berabad-abad lamanya, kemudian menggapai kemerdekaannya pada tanggal 17 agustus 1945, namun hingga kini setelah sekian puluh tahun merdeka , kini Indonesia seolah kehilangan arah dan tujuan dari para pendiri bangsa ini dulu ketika memproklamirkan kemerdekaannya, di lapisan atas para elite sibuk berperang memperebutkan kekuasaan sedangkan dilapisan bawah rakyat kehilangan pegangan dan harapan, di lapisan tengah rakyat harus berjuang sendiri dan di goyang atas bawah pusing mengikuti entah mau kemana. Indonesia, Bangsa yang pernah Jaya dimasa lalu, dimana nenek moyang kita dikenal sebagai pelaut ulung, ditakuti dan disegani para musuh, dihormati para sahabat kini seperti bayi yang baru belajar merangkak, butuh bimbingan dan pengawasan dari para musuh serta sahabat.  Indonesia, Bangsa yang pernah Jaya dimasa lalu, tidak pernah membedakan suku dan agama, saling bahu membahu mempertahankan kejayaannya, tid...