Ada harapan yang disimpan masyarakat Jakarta yang memutuskan untuk mengadu langsung kepada Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI.
Mereka tentu berharap ada solusi dari permasalahan yang mereka alami selama ini. Bertemu dengan gubernur berani yang menjadi pelindung masyarakat selama ini.
Hal itu diungkapkan oleh pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio.
"Rakyat itu kalau sampai menemui pemimpinnya, dia pasti menyimpan harapan-harapan, mereka berharap ada solusi dari permasalahan mereka," ujar Hendri ketika dihubungi, Kamis (17/12/2015).
Namun harapan itu seakan pupus. Sebab ketika mengadu mereka malah dimarahi, diancam, bahkan dituduh sebagai maling.
Misalnya saja dalam sepekan kemarin, dua orang terkena "semprot" saat mengadu langsung kepada sang Gubernur.
Pertama adalah Yusri Isnaeni yang mengadukan soal adanya toko makelar Kartu Jakarta Pintar (KJP) di Pasar Koja, Kamis (10/12/2015).
Ada beberapa toko yang ternyata benar membantu warga menguangkan KJP dengan imbalan 10 persen dari uang yang dicairkan.
Yusri yang berniat baik tidak terima dirinya disebut maling oleh sang Gubernur. Permintaan maaf yang diwakilkan oleh staf Ahoktidak dipedulikan. Rabu (16/12/2015) kemarin, dia melaporkanAhok ke Polda Metro Jaya.
Satu lagi yang kena maki-maki Ahok adalah Handoyo, pemilik Penthouse Hotel, yang mempertanyakan izin hotelnya tidak diperpanjang.
Dia melapor kepada Ahok pada Senin (14/12/2015). Terkait hal ini, Hendri berpendapat Ahok telah mematahkan harapan rakyatnya. Tidak ada solusi yang dia berikan kecuali amarah kepada rakyat.
"Ketika dibentak, itu sudah membuat luka mereka semakin lebar," ujar Hendri.
Risiko pemimpin
Hendri mengatakan seharusnya Ahok bisa menyadari risiko menjadi seorang gubernur. Di mana pun, seorang pemimpin harus siap menerima segala bentuk komplain dari warga. Baik yang disampaikan secara langsung atau pun tidak langsung.
Menurut dia, sudah kodrat seorang pemimpin melayani orang yang dipimpinnya. Bukan malah marah dan bersikap arogan. Sekalipun dalam hal ini masyarakat yang salah dan tidak tahu aturan.
"Kalau memang ada kekurangan atau masyarakat yang tidak memahami peraturan, Ahok bisa beri pencerahan di situ. Tapi jangan dibentak. Pak Ahok juga mungkin berpikir kerjaan dia banyak sehingga tidak sempat mengurus aduan itu. Tapi itulah risiko gubernur, risiko jadi pelayan rakyat," ujar dia.
Ibu pengadu KJP yang dibentak Ahok, Yusri, kini sudah melaporkan sikap Ahok ke Polda Metro Jaya. Hendri berharapAhok bisa belajar dari kejadian tersebut. Bagaimana pun, dilaporkan oleh rakyat sendiri adalah hal yang tidak baik.
Menurut Hendri, Ahok harus belajar ketika menerima aduan. Sesalah apapun warga yang melapor, sebaiknya dicatat dan dikaji. Jika salah, beri penjelasan.
Harus dimanfaatkan
Lagipula, kata Hendri, Ahok sebenarnya bisa memanfaatkan aduan masyarakat itu untuk 2 hal positif.
Pertama, Ahok bisa menjelaskan dan mendengar secara langsung permasalahan yang dialami masyarakat bawah. Tanpa perlu melakukan blusukan, Ahok bisa memantau.
Kedua, Ahok bisa sekaligus memantau kinerja bawahannya. Menurut dia, datangnya warga ke Balai Kota adalah bukti kelemahan anak buah Ahok dalam membereskan masalah.
"Kalau ada keluhan dan itu banyak, berarti kan Tim Ahok enggak terlalu kuat. Tapi jangan dilupakan, tim yang kuat itu terbentuk dari leadership yang kuat loh," ujar Hendri.
"Kalau memang masyarakat yang engga tahu aturannya, berarti ada informasi yang enggak sampai kan," ujar Hendri.
Mereka tentu berharap ada solusi dari permasalahan yang mereka alami selama ini. Bertemu dengan gubernur berani yang menjadi pelindung masyarakat selama ini.
Hal itu diungkapkan oleh pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio.
"Rakyat itu kalau sampai menemui pemimpinnya, dia pasti menyimpan harapan-harapan, mereka berharap ada solusi dari permasalahan mereka," ujar Hendri ketika dihubungi, Kamis (17/12/2015).
Namun harapan itu seakan pupus. Sebab ketika mengadu mereka malah dimarahi, diancam, bahkan dituduh sebagai maling.
Misalnya saja dalam sepekan kemarin, dua orang terkena "semprot" saat mengadu langsung kepada sang Gubernur.
Pertama adalah Yusri Isnaeni yang mengadukan soal adanya toko makelar Kartu Jakarta Pintar (KJP) di Pasar Koja, Kamis (10/12/2015).
Ada beberapa toko yang ternyata benar membantu warga menguangkan KJP dengan imbalan 10 persen dari uang yang dicairkan.
Yusri yang berniat baik tidak terima dirinya disebut maling oleh sang Gubernur. Permintaan maaf yang diwakilkan oleh staf Ahoktidak dipedulikan. Rabu (16/12/2015) kemarin, dia melaporkanAhok ke Polda Metro Jaya.
Satu lagi yang kena maki-maki Ahok adalah Handoyo, pemilik Penthouse Hotel, yang mempertanyakan izin hotelnya tidak diperpanjang.
Dia melapor kepada Ahok pada Senin (14/12/2015). Terkait hal ini, Hendri berpendapat Ahok telah mematahkan harapan rakyatnya. Tidak ada solusi yang dia berikan kecuali amarah kepada rakyat.
"Ketika dibentak, itu sudah membuat luka mereka semakin lebar," ujar Hendri.
Risiko pemimpin
Hendri mengatakan seharusnya Ahok bisa menyadari risiko menjadi seorang gubernur. Di mana pun, seorang pemimpin harus siap menerima segala bentuk komplain dari warga. Baik yang disampaikan secara langsung atau pun tidak langsung.
Menurut dia, sudah kodrat seorang pemimpin melayani orang yang dipimpinnya. Bukan malah marah dan bersikap arogan. Sekalipun dalam hal ini masyarakat yang salah dan tidak tahu aturan.
"Kalau memang ada kekurangan atau masyarakat yang tidak memahami peraturan, Ahok bisa beri pencerahan di situ. Tapi jangan dibentak. Pak Ahok juga mungkin berpikir kerjaan dia banyak sehingga tidak sempat mengurus aduan itu. Tapi itulah risiko gubernur, risiko jadi pelayan rakyat," ujar dia.
Ibu pengadu KJP yang dibentak Ahok, Yusri, kini sudah melaporkan sikap Ahok ke Polda Metro Jaya. Hendri berharapAhok bisa belajar dari kejadian tersebut. Bagaimana pun, dilaporkan oleh rakyat sendiri adalah hal yang tidak baik.
Menurut Hendri, Ahok harus belajar ketika menerima aduan. Sesalah apapun warga yang melapor, sebaiknya dicatat dan dikaji. Jika salah, beri penjelasan.
Harus dimanfaatkan
Lagipula, kata Hendri, Ahok sebenarnya bisa memanfaatkan aduan masyarakat itu untuk 2 hal positif.
Pertama, Ahok bisa menjelaskan dan mendengar secara langsung permasalahan yang dialami masyarakat bawah. Tanpa perlu melakukan blusukan, Ahok bisa memantau.
Kedua, Ahok bisa sekaligus memantau kinerja bawahannya. Menurut dia, datangnya warga ke Balai Kota adalah bukti kelemahan anak buah Ahok dalam membereskan masalah.
"Kalau ada keluhan dan itu banyak, berarti kan Tim Ahok enggak terlalu kuat. Tapi jangan dilupakan, tim yang kuat itu terbentuk dari leadership yang kuat loh," ujar Hendri.
"Kalau memang masyarakat yang engga tahu aturannya, berarti ada informasi yang enggak sampai kan," ujar Hendri.
Comments