Skip to main content

Begini Cara PPATK Temukan Transaksi Bandar Narkoba Rp 3,6 T

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan transaksi bandar narkoba sebesar Rp 3,6 triliun. Kepala PPATK Muhamad Yusuf mengungkap bagaimana menemukan transaksi tersebut.

"Jadi kita menemukan memang ada oknum yang transaksi kirimnya begitu masif hingga 5 ribu kali dalam setahun. Jadi kita penasaran bisnis apa orang ini kita mundur ke belakang, mencari tahu sumber dana, ternyata dari pelaku narkoba," kata Yusuf usai mengikuti rapat di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (25/4/2016).

Transaksi tersebut terjadi pada tahun 2014-2015. Sejak awal PPATK sudah menaruh curiga karena nilai transaksi yang amat besar dan dilakukan setiap hari.

"Jadi 5 ribu kali transaksi, tiap harinya dia kirim 15 sampai 20 transaksi. Tapi tidak ada bisnis begitu. Orang begini biasa impor barang, (tapi) masa impornya tiap hari? Tentu kita curiga dan sudah kita lapor ke BNN," imbuh Yusuf.

Yusuf menyebut transaksi senilai Rp 3,6 triliun ini merupakan satu kasus. Masih ada kasus-kasus lain yang serupa.

"Duitnya dari sini ke China sana. Asumsinya barang dari sana," sebut Yusuf.

Lalu, bagaimana cara oknum tersebut menyembunyikan bisnis narkobanya selama ini? "Ada yang pakai money changer, ada juga travel agent, ada juga punya usaha di bidang trading, itu kamuflase saja," papar dia.

Yusuf kemudian menyebut oknum itu sudah ditangkap dan ditahan, tetapi dia enggan membeberkan di mana bandar narkoba itu dipenjara. PPATK sudah melaporkan ke BNN terkait hal ini. BNN pun sudah memberitahukan kepada PPATK siapa-siapa saja yang akan jadi tersangka.

Comments

Popular Posts

Hujan Deras Mengguyur Ibu Kota, Sejumlah Ruas Jalan Digenangi Air

 Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Jakarta, Senin (1/11/2016), menimbulkan genangan air di sejumlah lokasi. Imbasnya, arus lalu lintas menjadi tersendat. Berdasarkan informasi dari Akun Twitter Resmi TMC Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, genangan air tampak di sebagian wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Salah satunya di Jalan DI Panjaitan. Di lokasi tersebut, air menggenangi ruas jalan setinggi 20 sentimeter. Akibat genangan air tersebut kendaraan terpaksa melintas di jalur Transjakarta. View image on Twitter  Follow TMC Polda Metro Jaya   ✔ @TMCPoldaMetro 15.38 Genangan air sekitar 30 cm di Jl Pangeran Jayakarta lalin terpantau padat @ kolammedan 3:38 PM - 1 Nov 2016     2 2 Retweets     5 5 likes "15.33 WIB genangan air sekitar 20cm depan Wika Jalan DI Panjaitan, Jaktim, hati-hati bila melintas," tulis akun twitter @TMCPoldaMetro. Selain di Jalan DI Pan...

"Pak Ahok, 'You Will Never Walk Alone'..."

Kurnia Sari Aziza/KOMPAS.com Warga menandatangani dan memberi kalimat dukungan kepada Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, di area Car Free Day, Jakarta, Minggu (16/11/2014). JAKARTA, KOMPAS.com  — "Saya Muslim, dan saya dukung Ahok," begitu kata Friska Lubis (28), warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, memberikan dukungan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Minggu (16/11/2014) pagi, Friska bersama kedua temannya sedang berlari pagi saat  car free day . Namun, aktivitas mereka terhenti saat melihat dua spanduk berukuran 1,5 x 5 meter terbentang di pelataran halaman Hotel Kempinski, Jakarta. Spanduk itu berasal dari Barisan Relawan Indonesia. Dalam spanduk itu terdapat foto Basuki mengenakan baju kotak-kotak. Friska dan kedua temannya langsung mengambil spidol dan menandatangani spanduk sebagai bentuk dukungan kepada Basuki. "Pak Ahok,  you will never walk alone ," tulis Friska di spanduk itu. Pegawai salah satu p...

Indonesiaku Kini

Indonesia , Bangsa yang pernah jaya dimasa lalu, pernah pula dijajah berabad-abad lamanya, kemudian menggapai kemerdekaannya pada tanggal 17 agustus 1945, namun hingga kini setelah sekian puluh tahun merdeka , kini Indonesia seolah kehilangan arah dan tujuan dari para pendiri bangsa ini dulu ketika memproklamirkan kemerdekaannya, di lapisan atas para elite sibuk berperang memperebutkan kekuasaan sedangkan dilapisan bawah rakyat kehilangan pegangan dan harapan, di lapisan tengah rakyat harus berjuang sendiri dan di goyang atas bawah pusing mengikuti entah mau kemana. Indonesia, Bangsa yang pernah Jaya dimasa lalu, dimana nenek moyang kita dikenal sebagai pelaut ulung, ditakuti dan disegani para musuh, dihormati para sahabat kini seperti bayi yang baru belajar merangkak, butuh bimbingan dan pengawasan dari para musuh serta sahabat.  Indonesia, Bangsa yang pernah Jaya dimasa lalu, tidak pernah membedakan suku dan agama, saling bahu membahu mempertahankan kejayaannya, tid...