Roy (70) kembali lagi ke toko baju seragamnya selesai sembahyang Maghrib. Roy sudah berdagang di Pasar Rumput sejak tahun 1970. Pada awalnya Roy menyewa kios. 12 tahun kemudian, ia beli kiosnya agar menjadi milik. Ia berharap nantinya dapat mewariskan kios tersebut ke anaknya bilamana ia sudah tidak mampu lagi berdagang.
"Saya dagang di sini sudah dari tahun '70. Saya tahun '82 beli kios ini 10 juta rupiah. Dulu ada sistem beli kios," ujar Roy membuka cerita kiosnya di lantai 1, Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (25/4/2016).
Namun asa Roy bisa memberi warisan ke anak cucunya terancam tak terwujud. Ada rencana revitaliasi bagi pedagang. Ia bercerita bahwa nantinya Pasar Rumput akan dibangun ulang. Di atas pasar, akan ada rumah susun sewa (rusunawa) yang tingginya lebih dari 20 lantai. Nantinya dia harus membayar sewa bila ingin memiliki kios baru. Kepemilikan kios lama tak berarti.
Sementara Di lantai 2, ada Nur (54) yang membuka salon. Sama seperti Roy, Nur sudah memiliki kios di Pasar Rumput, bedanya Nur punya kios sebanyak 2 buah.
Baik Roy maupun Nur, menolak bila nantinya harus membayar sewa di Pasar Rumput yang telah direvitalisasi. Mereka yang sudah memiliki kios tergabung dalam Koperasi Pedagang Pasar Rumput. Koperasi ini masih terus menjalani rapat dengan pengelola Pasar Rumput. Mereka negosiasi agar tidak diberlakukan sistem sewa.
"Orang yang sudah lama di sini, nggak mau misalnya nanti dipakai sistem sewa. Dibilang nanti sistem sewa sih, sudah ada rencananya itu. Sewa hak pakainya sampai 20 tahun," ujar Nur yang sudah berdagang sejak tahun 1982.
Nur sudah mengajarkan 2 anak gadisnya cara "nyalon". Ia ingin keduanya melanjutkan usaha salon yang dipunya, seandainya mereka tidak mau bekerja di kantor. Dengan diberlakukannya sistem sewa, Nur menganggap dirinya harus memulai dari nol. Tanpa punya hak memiliki kios.
"Misalnya saya, punya 2 anak cewek. Sudah mampu jalanin salon. Ini kan saya udah punya kios, nanti misalnya pasar yang baru udah jadi, masak anak saya harus bayar sewa lagi? Mulai dari nol lagi?" tutur Nur.
Ketika nanti proses revitalisasi Pasar Rumput berjalan, rencananya para pedagang akan direlokasi ke tempat baru. Meskipun gratis, bagi pemilik kios lebih dari satu, akan dilakukan peraturan. Karena kabarnya, penampungan tersebut hanya terdapat 800 kios.
"Saya punya 2 kios. Nanti di penampungan sementara jadi 1 kios. Kalau orang yang punya 10 nanti dapatnya 4 kios. Karena di sana gak tertampung semuanya," kata Nur.
"Saya dagang di sini sudah dari tahun '70. Saya tahun '82 beli kios ini 10 juta rupiah. Dulu ada sistem beli kios," ujar Roy membuka cerita kiosnya di lantai 1, Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (25/4/2016).
Namun asa Roy bisa memberi warisan ke anak cucunya terancam tak terwujud. Ada rencana revitaliasi bagi pedagang. Ia bercerita bahwa nantinya Pasar Rumput akan dibangun ulang. Di atas pasar, akan ada rumah susun sewa (rusunawa) yang tingginya lebih dari 20 lantai. Nantinya dia harus membayar sewa bila ingin memiliki kios baru. Kepemilikan kios lama tak berarti.
Sementara Di lantai 2, ada Nur (54) yang membuka salon. Sama seperti Roy, Nur sudah memiliki kios di Pasar Rumput, bedanya Nur punya kios sebanyak 2 buah.
Baik Roy maupun Nur, menolak bila nantinya harus membayar sewa di Pasar Rumput yang telah direvitalisasi. Mereka yang sudah memiliki kios tergabung dalam Koperasi Pedagang Pasar Rumput. Koperasi ini masih terus menjalani rapat dengan pengelola Pasar Rumput. Mereka negosiasi agar tidak diberlakukan sistem sewa.
"Orang yang sudah lama di sini, nggak mau misalnya nanti dipakai sistem sewa. Dibilang nanti sistem sewa sih, sudah ada rencananya itu. Sewa hak pakainya sampai 20 tahun," ujar Nur yang sudah berdagang sejak tahun 1982.
Nur sudah mengajarkan 2 anak gadisnya cara "nyalon". Ia ingin keduanya melanjutkan usaha salon yang dipunya, seandainya mereka tidak mau bekerja di kantor. Dengan diberlakukannya sistem sewa, Nur menganggap dirinya harus memulai dari nol. Tanpa punya hak memiliki kios.
"Misalnya saya, punya 2 anak cewek. Sudah mampu jalanin salon. Ini kan saya udah punya kios, nanti misalnya pasar yang baru udah jadi, masak anak saya harus bayar sewa lagi? Mulai dari nol lagi?" tutur Nur.
Ketika nanti proses revitalisasi Pasar Rumput berjalan, rencananya para pedagang akan direlokasi ke tempat baru. Meskipun gratis, bagi pemilik kios lebih dari satu, akan dilakukan peraturan. Karena kabarnya, penampungan tersebut hanya terdapat 800 kios.
"Saya punya 2 kios. Nanti di penampungan sementara jadi 1 kios. Kalau orang yang punya 10 nanti dapatnya 4 kios. Karena di sana gak tertampung semuanya," kata Nur.


Comments